Menyempurnakan Separuh Agama dengan Cara Tak Terduga (Segmen Tiga)



Adib:            Subhanallah , ya, Qih (menyikut Faqih) Pintar, sabar, santun, sholehah.. Besok diskusi di sinilagi aja, ya qih. Hehe..
Faqih:            Apa sih, dib.. Ghaddul Bashar, ah. (Tersenyum, sembari membuka-buka kitab lagi)
Adib:             (tak menyahut. Masih memandangi Kaysa dari kejauhan)
Faqih:            Adib (menjumput sebuah foto yang terselip di Kitab), ini foto..
Adib:             (menarik foto dari tangan Faqih) Eh, apa-apaan tuh.
Faqih:            Itu foto Adilla anak kelas kita, kan? Ngapai kamu simpen?
Adib:             memasukkannya ke dalam dompet) Ah, nggak (salah tingkah).  Udah ah, lanjutin lagi. Tadi sampai mana?
Faqih:            Wah, Adib.. Diem-diem.. Haha (tertawa kecil)
Adib:             Udah, stop, Ah (Mendorong pelan Faqih)

Adegan 3
Esok sorenya, Kaysa  selesai mengajar dan hendak pulang.
(Faqih sedang duduk di teras, menekuri sebuah buku)
Kaysa:       (Membereskan buku dan melangkah ke pintu depan masjid) (Sambil mengenakan sandal, melihat ke arah kitab yang dibaca Faqih) Mm.. Permisi.
Faqih:             (menoleh)
Kaysa:           Maaf, apa itu Buku Fatwa-Fatwa Kontemporer?
Faqih:            Oh, iya. Kenapa?
Kaysa:         Mm, ada pernyataan Syekh Qardhawi yang menurutku membingungkan dan kurang rasional. Aku takut salah kaprah.
Faqih:            Oya, di bagian yang mana?
Kaysa:           Aku lupa bab berapa, tapi temanya tentang Foto dan Gambar.
Faqih:            Coba aku cari (mengebat halaman buku, mencari) Oh, ini bukan (menyerahkan kepada Kaysa)
Kaysa:        (menerimanya, lalu duduk dan membaca) Nah, ini. Beliau menyatakan bahwa haram hukumnya memajang foto. Karena hal tersebut sama dengan mengagungkan makhluk. Padahal, yang patut diagungkan hanya Allah. (menyerahkan kitab itu lagi kepada Faqih). Bukankah itu terdengar berlebihan? Aku mengagumi pemikiran-pemikiran beliau. Namun setelah membaca bagian tersebut, aku tak jadi melanjutkan membacanya. Pendapatmu gimana?
Faqih:          (membaca sebentar bagian yang disebut kaysa) Mm, kuakui, beliau cerdas sekali dalam mengupas persoalan-persoalan kontemporer. Beberapa fatwanya memberi kejelasan atas kesamaran yang diperdebatkan banyak orang dewasa ini. Namun, kekurangan adalah miliksemua makhluk. Bagaimana pun juga, apa yang dituangkan di dalam buku ini adalah hasil ijtihad. Bukan kutipan langsung dari perkataan Rasul atau Firman Allah. Meskipun disertakan dalil naqli, tapi tetap kesimpulannya merupakan hasil interpretasi beliau. Hemat saya, kalau memang kita tidak berkenan pada salah satu fatwa, tidak harus ditinggalkan semuanya. Kesalahan di satu sisi tidak lantas  mewajibkan kita menyingkirkan semuanya. Kita tetap menyeleksi kembali dengan pengetahuan yang kita miliki dan dengan memohon hidayah Allah. Begitu kira-kira.
Kaysa:       (mengangguk-angguk) oh, begitu. Aku mulai paham sekarang.  (melirik arloji) Oh, sudah hampir maghrib. Aku harus pulang. Terima kasih, ya.. mm..Siapa namamu?
Faqih:            Namaku Faqih
Kaysa:          Oh, ya terima kasih banyak Faqih. Tadi penjelasan yang bagus menurutku . Aku pamit ya. Assalamu’alaikum..
Faqih:           Wa’alaikum salam (kembali membaca buku)

(angel dan devil menghampiri Faqih)
Devil:           Eh, sumpil sumpil sumpil. Parah banget lu bro. Denger gak tadi dia ngapain? Nanya nama, man, nanya nama! Kesempatan BESAR. Kenapa nggak nanya balik, hah? Rugi tau.
Angel:           Hush, istighfar, Faqih. Inget Allah. Ghaddul Bashar...
Devil:             Ghaddul bashar mulu, kapan dapetnya?? Jomblo seumur hidup mao?
Angel:           Faqih, jodoh kan udah diatur Allah. Sekarang fokus belajar aja dulu..
Devil:           Qih, dengerin gua baik-baik. Hidup itu harus usaha. Kalau ada yang pinter, baik, cantik, sholehah, ya harus di kejar. Diem, nunduk, yah.. Dibawa kabur orang.
Angel:     Faqih inget pesan rasul buat para pemuda, kan? Jangan nurutin nafsu, ya.. Jangan,bahaya.
Devil:           Woy, liat temen-temen lu. Udah pada punya gandengan. Masa mau jones mulu? Cupu amat, dah.
Faqih:          (menutup buku) Astaghfirullah.. Wudhu dulu ah. (pergi meninggalkan devil dan angel)
Devil:           Yah, yah, pergi dia
Angel:          Ah, kamu sih, rese (pergi meninggalkan devil). Kasian deh nggak didengerin.

(Baca kelanjutan ceritanya: Menyempurnakan Separuh Agama dengan Cara Tak Terduga - Segmen Empat)

Post a Comment for "Menyempurnakan Separuh Agama dengan Cara Tak Terduga (Segmen Tiga)"